Slava (part1) .. sebuah catatan seorang gadis remaja yang menginginkan kesempurnaan

Ntah kenapa aku terfikir akan adanya sebuah cibiran yang akan datang padaku kelak. Dan aku belum siap dengan itu semua. Aku belun siap menanggung apa yang telah ia lakukan. Yang telah papa dan mama lakukan. Tolong aku tuhan, jangan pisahkan mama dan papa sekarang. Aku masih ingin untuk bahagia. Aku belum siap untuk menangis sepanjang hari seperti ini. Dan aku masih belum siap menjalani semua ini. SEMUA INI!!

***

Hari itu panas terik matahari pagi menembus kaca kamarku yang terletak di samping kiri tempat tidurku. Panas terik ini sangat menyengat hingga akhirnnya aku tersadar bahwa aku pasti telat sekolah. Aku kesiangan.

Mama telah menyiapkan sarapan di meja makan sebelum akhirnya pergi kerja. Papa telah menyiapkan uang saku untukku yang di taruhnya di atas meja makan bersamaan dengan sarapan yang disiapkan mama.

Mama kini sibuk dengan pekerjaan barunya yang menyita waktu sangat banyak hingga akhirnya tiada waktu untuk bersamaku lagi seperti dulu-waktu aku kelas 2SMP. Papa kini sangat sibuk untuk mencari uang yang banyak karna papa berambisi untuk memindahkan kami sekeluarga ke Denmark. Yaaa, walaupun akan ada yang namanya adaptasi lagi untuk kesekian kalinya, aku harus turuti apa kata orang tuaku. Tetapi, kalau dilihat-lihat dari gerak-geriknya, mama tidak setuju jika pindah keluar negeri. Sepertinya mama sudah nyaman disini. Dirumah berlantai 2 dengan dihiasi banyak bunga dikebunya ini. Mama berucap jika keluargaku tetap pindah, maka mama tak akan ikut. Aku tak mungkin pergi tanpa mama, dan papa tak akan pergi tanpaku, jadi kemungkinan besar kepindahanku keluar negeri akan di batalkan.

Namaku adalah Jaehara Putri Slavarithaya yang artinya adalah anak putri pertama dari pasangan Dwihara dan Jelarsya dalam keluarga besar Rithaya. Sedangkan Slava yaitu panggilan dari kakek Varitdh dan nenek Slathaya kepadaku. Agar tidak membingungkan orang-orang, maka mama dan papa menggabungkan nama slava dengan Rithaya sehingga menjadi Slavarithaya.

Aku anak pertama dari satu bersaudara. Aku sekarang berusia 17 rahun. Aku duduk di kelas 3 SMA di SMA terfavorit di kota ini. Seharusnya aku kelas 2 SMA tahun ini, tapi aku mengambil jelas axel di SMA jadi aku sekarang menjadi kelas 3. Aku tinggal di Lampung. Sebenarnya aku pindahan dari kota Malang. Tidak..tidak.. Aku sebenarnya asli orang Jerman blasteran Indonesia(Bali), tapi, sampai detik ini juga aku tidak mengerti bahasa Jerman. Jangankn bahasa Jerman, bahasa Bali saja aku tidak paham. Tapi, jika aku ditanya mengenai bahasa daerah Kalimantan Selatan dan bahasa Sumatra Barat, aku paham apa yang mereka katakan-walau sedikit. Aku pindah dari kota ke kota hingga pindah ke Malaysia karna kebetulan Papa dipindah secara mendadak oleh perusahaan, sehingga kami harus dengan berat hati memutuskan untuk pindah ke Malaysia.

Disaat gentar gentir begini, disaat aku ingin memulai konsentrasi untuk Ujian Nasional ada kabar kurang baik datang. Mama dan papa yang biasanya akur malah sering berantem. Aku tidak sanggup untuk menahan derita ini. Aku berencana untuk kabur dari rumah, tapi gagal. Papa mengawasiku dengan ketat. Papa tidak ingin aku pergi dari sisinya, sehingga aku tidak nyaman dengan semua ini. Memang, akhir-akhir ini mama dan papa selalu berantem, banyak benda-benda yang harganya sampai ratusan juta hingga milyaran hilang karna dihancurkan oleh papa dan mama. Aku tidak tahu alasan pribadi mama dan papa mengapa mereka bisa ribut hebat seperti itu. Aku lihat muka mama yang memar akibat tinjuan dan tamparan dari papa, sedangkan papa kakinya luka dan tangan kirinya patah akibat hantaman dari kursi kayu yang patah yang dilakukan oleh mama. Jujur, aku sangat shock! Aku sangat tidak ingin melihat itu semua. Aku tidak ingin berada disini. Aku ingin pergi. Aku ingin keluar dari rumah ini. Aku ingin menjauh. Aku ingin keluar. Aku ingin BEBAS!! AKU INGIN BEBAS!!

Kuat dugaanku orangtuaku cekcok karna adanya orang ketiga, atau bahkan karna orang keempat yang hadir disetiap sisi orangtua ku. Aku pernah mendengar bahwa bukan itu alasannya.
"Ingat ya mas! Aku sudah muak dengan semua ini. Aku ingin pergi. Aku udah gak betah disini. Kamu urusi saja pekerjaanmu itu yang tidak pernah ada waktu untukku dan anakku"
"Kamu yang harus tahu diri, kamu kemana aja selama ini? Kamu urusi tidak anak kamu itu? Kamu ingat, yang memberikan dia segalanya itu siapa! Kamu baru-baru ini saja mempunyai pekerjaan dan sok sibuk. Padahal pekerjaanmu tidak terlalu sibuk!"
Dan, selalu begitu. Kadang mama dan papa tak ada dirumah selama 1bulan. Dan juga mereka pasti bergantian untuk menemaniku dirumah. Hanya dirumah. Tidak untuk refreshing atau sebagainya. Dan tidak untuk memperhatikanku, hanya untuk MENEMANI saja. Iya! Saja!

1minggu sebelum ujian nasional, aku berniat kabur dari rumah. Kebetulan, 1minggu itu libur sekolah untuk anak kelas 3 SMA. Dan itu aku gunakan untuk melancarkan misiku yang sangat brilian. Sebelum pergi, aku sengaja mem-packing barang-barangku berasa mau pergi liburan. Aku membawa baju, buku pelajaran, seragam sekolah, sepatu, dan semua gadget yang aku punya. Lalu aku mengirim surat untuk mereka semua(mama dan papa). Dan aku berhasil untuk pergi ntah kemana.

Aku berjalan dari rumah ke rumah temanku. Tak ada yang ingin menerimaku setelah aku ceritakan masalahku. Hingga aku sungguh bingung harus kemana. Aku tak tahu harus kemana. Apakah aku harus pulang? Tidak! Apakah aku harus pergi lagi? Iya! Tapi kemana? Kemana aku harus pergi? Jujur, aku bingung. Aku merasa tidak mempunyai teman lagi. Seorang kekasih yang kupunya yang bernama Gilang saja sudah tidak ingin menemuiku. Teman-temanku seperti Nadia, Lasre, Dona, Tiara, Zahra, Anggo, dan Pasha pun tak ada yang ingin dekat denganku. Apalagi perkataan Lasre yang sangat menyakitkan telah menguatkanku bahwa mereka bukan sahabatku lagi.
"Av, gue kasih tau aja. Semenjak lo gabung di gank kami, kami ngerasa kami semakin tenar. Kami sadar bahwa kamulah yang menjadikan kami seperti ini. Maka dari itu, gue dengan anak-anak berencana buat manfaatin lo. Kami semua manfaatin lo av. Yang pertama kali tau kalau orangtua lo ribut dan lo butuh temen itu Tiara. Lo pertama kali kerumah Tiara kan? Jujur aja av. Kami gak bisa nerima lo lagi. Tapi lo bisa kok jadi temen gue khususnya dan Anggo plus Pasha. Karna kita bertiga sadar kalau lo emang sahabat kami. Tapi sorry banget, gue gak bisa nampung lo. Sorry banget av. Sorry ya av"
Kata-kata itu terngiang trus menerus. Selama diperjalanan-jalan kaki- aku terus saja mengingat kata-kata dari (mantan) sahabat dan (mantan) pacarku yang kini berpacaran dengan Nadia (mantan) Sahabatku!

Aku mengambil semua uang yang ada di semua ATM-ku. Semuanya. Dan aku berencana untuk tinggal di Hotel yang tak jauh dari sekolahanku, karna aku masih ingin untuk sekolah dan mengerjakan Ujian Nasional. Saat di tempat makan, aku teringat dengan mama dan papa. Apakah mereka membaca surat dariku? Tapi jika mereka telah membacanya, aku yakin mereka pasti mencariku.

----------

Untuk: mama dan papa tercinta

Dear Mama dan Papa

Hai ma, pa. Aku sekarang sudah pergi dari kehidupan kalian. Aku kabur dari rumah. Aku sudah bosan tinggal dirumah. Aku lelah untuk mendengar kalian berdua berantem. Aku lelah untuk melihat kalian terluka. Aku sedih ma, pa! Aku bahagia! Aku bahagia jika kalian tidak berantem. Aku bahagia jika kalian akur kembali seperti dulu. Dulu di akhir pekan, kita selalu berlibur. Kita selalu bersama. Keluar kota untuk refreshing, ingat tidak pa? Picnik di pantai bahkan di sawah tempat orang, ingat tidak ma? Aku rindu itu semua. Semenjak kelas aku masuk SMP itu semua sirna! Kalian ingat kenapa nilaiku selalu menurun tetapi Ujian ku selalu 100, apakah kalian ingat? Ingat saat aku selalu dipukul jika nilaiku turun? Ingatkah kalian bahwa aku anak kalian? Ingatkah kalian bahwa kalian memiliki anak? Apakah kalian ingat? Ingat itu semua? Sungguh. Jika kalian ingin aku kembali, aku ingin kalian melihatku dengan lumuran darah akibat siksaan dari kalian. Aku ingin kalian melihat bahwa kalian ternyata memiliki anak yang pernah kalian tinggalkan, anak yang dulu kalian banggakan dan dulu yang pernah kalian sayangi. Aku mohon, kalian tidak mengkhawatirkanku jika kalian membaca suratku. Dan kalian jangan ribut lagi setelah membaca surat ini. Yang harus kalian tahu. Aku sayang mama dan papa.

Loving - Slava

----------

Pasti mereka belum membacanya. Pasti itu. Ntah mengapa keadaanku kini sangat buruk. Aku mengantuk. Yatuhan. Hotel sangat jauh dari sini. Taxi tidak ada, angkot? Aku takut menaiki angkutan kota setelah kejadian menimpa Ningrum-sahabatku yang diperkosa oleh supir angkot. Ojek? Hmm, no! Jadi aku harus kemana?

"Jae? Kamu kok disini? Koper kamu? Kamu kabur dari rumah?" Seseorang telah berbicara dan bertanya padaku. Aku masih bingung, dia siapa. Aku tak tahu. Aku tak bisa mengingat dia siapa. Dan yang ku tahu, aku terjatuh dan aku tak ingat apa yang terjadi. Tiba-tiba aku berada di kamar seseorang yang belum aku ketahui siapa dia. "Apa kamu sudah baikan jae?" Dan ternyata dia adalah Habiqi-panggilanku kepada dia- sahabatku yang pernah kulupakan. Dia anak kelas 3 SMA reguler. Rumahnya tak jauh dari rumahku. Tetapi, jika aku berada di rumahnya, seharusnya dia membawaku kerumah. Mungkin ia tahu bahwa aku kabur dari rumah. "Maaf ya, aku bawa kamu kerumah. Karna aku tahu kamu pasti kabur dari rumah"
"Kamu tau dari mana kalau aku kabur?" Tanyaku heran kepadanya.
"Maaf sebelumnya jae, aku melihat kopermu yang berisi baju dan peralatan sekolah. Jadi aku yakin kalau kamu kabur dari rumah. Maaf ya"
"Iya gak apa-apa kok. Kamu masih sendirian? Oh astaga yaampun, aku minta maaf. Aku lupa kalau kamu yatim piatu. Maaf ya qi." Habiqi hanya tersenyum mendengarnya. "Terimakasih ya qi, aku gak tau kalau gak ada kamu, mungkin aku bakal terjun payung dari mall itu. Aku stres. Aku gak betah dirumah......" dan aku menceritakan apa yang aku rasakan. Aku tak sadar bahwa aku tertidur dan siap untuk menghadapi hari esok yang rumit.

Esok tiba. Sinar fajar telah menyambutku penuh kehangatan dan, disini memang sangat hangat dari kamarku. Dimana aku? Mengapa kamar ini berbeda. Aku lupa aku berada dimana. Sebenarnya aku ini ada dimana? Ya tuhan! Ku tengok ke meja di sebelah kananku yang berhadapan langsung dengan jendela dan pemandangan taman belakang yang sangat asri. Disitu ada surat. "Surat?" Ya! Itu dari habiqi. Aku ingat sekarang. Aku berada dirumah habiqi sekarang. Aku ingat, dia yang mengantarkanku kerumahnya disaat aku pingsan karna aku kedinginan.

----------

Jae, aku sudah buatin kamu sarapan. Maaf. Aku sudah berangkat sekolah duluan sebelum kamu bangun. Atau bahkan aku baru saja berangkat. Yang kamu tahu, di 9 sangat disiplin sekolahnya. Dan aku harus berangkat sekarang. Aku takut terjebak macet, karna jalanan yang biasa aku lewati sedang ada perbaikan jalan. Ohya, jika kamu bosan di kamar, kamu bisa ke ruang tamu. Atau menyalakan televisi di kamar ku. Kamar ku tepat di sebelah kamar kamu. Sebelah kiri ya. Karna disebelah kanan kamu itu adalah kamar mandi. See you. Ohya, sekali lagi. Kalau kamu mau, handphone kamu di non-aktiv-kan saja. Karna dari tadi Anggo menelpon.

----------

Yaa benar. Anggo sudah berulang kali menelponku. Tapi mengapa bisa terjadi? Lalu aku mencoba message Anggo. Tak ada balasan. Akhirnya, aku coba untuk mematuhi apa yang telah Habiqi katakan.

Terlintas, aku terbayangkan apa yang terjadi padaku jika mama dan papa tahu jika aku meninggalkan rumah. Sudahlah, mungkin mereka akan tertawa bebas karna tak ada beban dan mereka dapat berpisah untuk selamanya. Oh tidak!! Benar apa kata habiqi, sebaiknya aku menonton tv. Hmm, harus ada cemilan. Di kulkas yang habiqi punya hanya terdapat pisang dan selai disertai roti tawar. Akan aku buatkan makanan kesukaan habiqi dan yang makan tentu aku sendiri.

Aku heran. Mengapa rumah ini sangat bersih. Dasar magician! Sukanya sihir melulu. Tapi, setau ku dia adalah muggle! Oh no! I judged someone. I'm sorry aqi.


1 minggu telah berlalu. 1 minggu itu aku manfaatkan untuk belajar bersama habiqi dan anggo-yang setia menjadi sahabatku. Belajar bersama mereka, aku seperti mendapat kekuatan. Aku tahu, bahwa mereka (mama dan papa) belum mencariku. Aku tahu itu. Karna setiap aku keluar dan menengok rumah itu dari balkon kamar habiqi, rumah itu tetap seperti sebelum aku meninggalkannya. Banyak surat yang bertaburan. Aku pernah mengambilnya satu. Dan itu dari Universitas yang mengundangku masuk universitas melalui jalur prestasi karna aku mendapat juara 1 debate bahasa jepang tingkat nasional di kota Mataram 3 bulan lalu. Yang lain? Ntahlah. Tapi aku sempat melihat satu amplop bertuliskan "Tagihan" mama dan papa. Jujur, aku takut ini semua. Kuceritakan pada habiqi. Dan hanya dia yang dapat memberikanku solusi yang terbaik dari yang baik.

Aku meyakinkan diriku bahwa aku akan menyelesaikan ujian pertama ini dengan nilai yang sangat memuaskan. Aku telah membawa bekal yang selama ini aku dapatkan. Aku mendapatkannya! Iyaa! Aku mendapatkannya! Pasti!

Ntah kenapa aku terfikir akan adanya sebuah cibiran yang akan datang padaku kelak. Dan aku belum siap dengan itu semua. Aku belun siap menanggung apa yang telah ia lakukan. Yang telah papa dan mama lakukan. Tolong aku tuhan, jangan pisahkan mama dan papa sekarang. Aku masih ingin untuk bahagia. Aku belum siap untuk menangis sepanjang hari seperti ini. Dan aku masih belum siap menjalani semua ini. SEMUA INI!!

Aku mohon Tuhan. Jangan pertemukanku pada kedua orangtuaku dulu. Aku belum siap. Aku belum siap. Aku belum siap.

Sampai disekolah. Aku diantar oleh habiqi-yang kini menjadi sahabat sekaligus kekasih baruku- dan dia pesan 'apapun yang terjadi. Kamu harus tenang. Setenang mungkin kamu menghadapi juri-juri yang ada di perlombaan debate bahasa asingmu itu'. Hati ini bahkan bergetar. Yatuhan, apa aku benar-benar mencintainya? Apakah aku benar-benar menyayanginya jauh seperti aku menyayangi gilang? Dan jawabannya akan kudapatkan setelah ujian nasional pelajaran bahasa indonesia ini berhasil. Do'a-kan aku teman. Semoga aku dapat menyelesaikan ujian ini.

Untuk mama dan papa. Aku mohon, jangan menjadi titik fokusku di ujian ini. Loving you, for my parents and my best the best friend and my new boyfriend also.


(To be continue)

Komentar